Pengantar Untuk Kawan-Kawan




Assalamu'alaikum

Hay......kawan-kawan MANDA tercinta? Apa kabarnya? Detik waktu tak terasa telah memisahkan kita dari masa-masa silam. Waktu memaksa setiap diri melaju bersama hembusan angin mencari jati diri. Kemanapun arah, tujuan dan langkah kaki dihentakkan, disanalah akan kita jelajahi dunia mimpi-mimpi kehidupan. Guratan-guratan alam impian telah menggerakkan setiap jemari untuk menelusuri jelujur kehidupan yang membentang luas dan belum terlihat dimana muaranya. Itulah diri kita saat ini yang selalu berkelana untuk menemukan hidup ini.
Kita tentu masih ingat saat menerima ijazah dari MANDA Kebumen tercinta. Saat itulah kita mulai berfikir akan kemana melangkahkan kaki. Ada yang optimis ingin kuliah, ada yang bekerja, ada yang pesimis tak ada biaya, dan ada pula yang belum menemukan harapan. Itu semua hanyalah jalan kita menuju puncak jati diri. Setiap orang akan memiliki jalan berbeda dengan lainnya. Itu sah-sah saja karena jalan-jalan imipian begitu luas dan bercabang. Yang terpenting kita masih sadar bahwa kita masih mempunyai impian. Jadi tak perlu resah atau menyesal dengan keadaan sekarang. Teruslah melangkah mumpung masih ada waktu.
Kawan-kawan, ada segenggam perasaan menggelitik menancap di ujung hati. Setelah diteliti dengan seksama, diukur, di-analisis, di-petani-, lalu diteropong, ternyata perasaan itu hanyalah kangen. Kangennya juga tidak terlalu seberapa. Hanya sedikit tidak terlalu besar saja. Kalau diitung dan ditakar dengan kangennya kawan-kawan sama pacar, tentu kangen saya masih dibawah standar. Saya hanya kangen pingin mendengar kabar kawan-kawan. Dan juga pingin tahu kawan-kawan kali ini sedang apa? Apa lagi tidur, kerja, kuliah, nganggur, atau lagi apa. Ah, paling lagi pada duaan. Duaan dengan siapapun dan apapun tentunya. Dengan pekerjaan, dengan pelajaran, dengan sante-sante dirumah, dengan suami barang kali (nyindir nich....,hehe), atau dengan pacar???monggolah..... yang penting tidak sendirian.
Dari inilah saya mulai sadar bahwa saya harus punya sandaran hati untuk mengobati rasa kangen ini. Dan diujung segala keresahan, ada Mas Dev, sang pangeran cinta yang punya sihir ampuh mengobati kangen. Muncullah jurus Blog untuk mengobati rasa kangen ini. Ya sudah, berhubung dia punya ide jadilah Blog ini. Dengan legitimasi dari Om Ibnu, Mr. Aziz, dan peng-Gugat, maka dengan optimis dan dengan langkah kaki mantap seperti Kahlil Gibran yang akan bertemu May Ziadah, dibuatlah Blog dengan nama Mandament community. Nah, sekarang rasa kangen saya sudah mulai berkurang. Tapi itu tak cukup. Saya dan kawan-kawan community belum mendengar kabar kawan-kawan.
Untuk itu dan oleh karena itu, maka dari itu saya dan kawan-kawan community berharap kepada kawan-kawan semua untuk meluangkan waktu sedikit untuk sekedar melihat, membaca, memaki juga boleh, tapi sekali makian seratus ribu....hehe. Syukur mau berpartisipasi dalam Blog ini karena Blog ini adalah milik kita semua, bukan milik pribadi. Nanti blog ini akan diisi dengan info-info, mulai dari info kampus, kegiatan kawan-kawan, info kerja bagi yang bekerja, atau info apapun yang bermanfaat. Tapi bukan biro jodoh lho.... Terus, kawan-kawan juga bisa menyalurkan kreatifitas tulis-menulis. Mulai dari artikel ilmiah, semi-ilmiah, ilmiah populer, pokoknya yang mambu ngilmiah . Bisa nulis puisi, cerpen, atau punya pantun, lelucon, bisa juga tips-tips tentang kesehatan, pekerjaan, kuliah, makanan, support, atau tips apapun yang penting jangan tips cara selingkuh, ini dilarang undang-uandang! Pokoknya yang positif-positif aja deh....
Bisa juga tukar pengalaman. Pengalaman hidup, pengalaman, kerja, pengalaman kuliah, pengalaman pengangguran (biar dicarikan info kerja), atau pengalaman nyuri motor (tapi kalau ini kami laporin polisis,hehe). Bisa juga konsultasi persoalan kehidupan biar kami carikan pakarnya. Pokoknya yang serba positif dan berguna bagi kawan-kawan. Nanti kawan-kawan kirim saja uneg-uneg anda ke email : mandamentcomunity@gmail.com. Nanti uneg-uneg kawan-kawan akan kami tampilkan di Blog biar dibaca sama kawan-kawan yang lain. Jadinya mereka tahu gimana kabar kawan-kawan, apa aktifitasnya sekarang, trus kalau ada pengagum rahasia kan jadi bisa di-SMS, hihihi. Pokoknya kami tunggu uneg-uneg kawan-kawan dan selamat bergabung bersama Mandament community.

Wassalamu'alaikum

ttd

OP mandament community
Dev dan Anas

Rabu, 04 Juni 2008

Kolom Edisi Juni: Mengenang Bapak Bangsa

Soekarno In Memoriam
Soekarno, Pancasila, dan Pluralisme
Oleh : Fatkhul Anas*)

Bulan Juni ini adalah bulan Istimewa. Satu hari di hari itu, tepatnya 6 Juni menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indoneia. Hari itu menjadi saksi lahirnya seorang pahlawan. Ia lahir di sebuah kota bernama Blitar, tertanggal 6 Juni 1901. Kedua orang tuanya memberi nama Soekarno. Di Blitar itulah Soekarno pertamakali membuka matanya. Mata hitam dan bersih yang belum sedikitpun terbelenggu dosa, tiba-tiba harus menjadi saksi untuk sebuah drama kejam bernama "kolonialisme". Kelahiran Soekarno adalah kelahiran pilu. Lahir bersama penderitaan, kekejaman, serta ambisi yang membabi buta dari kaum kolonial. Ialah yang harus menanggung derita akibat drama kekejaman kolonial selama berabad-abad. Hanya saja ia sedikit tertolong karena dalam tubuhnya mengalir darah bangsawan. Sehingga dikala masa dewasanya tiba, ia bisa menikmati detik-detik pencerahan yang bernama pendidikan.
Masa pendidikannya inilah yang menjadi babak pertama dalam hidupnya untuk mencipta karakter kritis. Soekarno yang lahir dari rahim Indonesia adalah sosok manusia kritis, pemberani, keras, teguh dalam prinsip, cerdas serta toleran dan kasih sayang dengan semua golongan. Penduduk dari elit atas, petani, buruh, pejabat, agamawan, politisi, cendekiawan, semua digauli dengan intim oleh Soekarno. Keintiman itu melahirkan suasana kerukunan dan persatuan. Dan pada akhinya mengantarkan ia menjadi pejuang revolusioner, peraih kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.
Adalah Soekarno, Bapak Bangsa yang telah berhasil mengantarkan Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan. Ditemani seorang ahli ekonomi bernama Hatta, Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan tepat tertanggal 17 Agustus 1945. Praktis sejak itu sorak-sorai kegembiraan serta tangis kebahagiaan menyelimuti bumi Indonesia. Seluruh rakyat dari anak-anak, pemuda, dewasa, laki-laki, perempuan, serta orang-orang jompo, menjadi saksi lahirnya babak baru di bumi Indonesia, babak kebebasan. Abad pencerahan pun segera dimulai. Tatanan kehidupan yang porak-poranda segera dibenahi, ditata, serta direformasi. Indonesia mulai menampakkan diri sebagai sebuah bangsa ditengah bangsa-bangsa yang lain. Ke-eksisan-nya mulai kokoh meski disana-sini mendapat goncangan.
Dalam hidup Soekarno hal yang begitu dicintai ialah tanah airnya. Ia tak ragu-ragu menyebut Indonesia sebagai Ibu. Kecintaannya tergambarkan dalam berbagai pidato-pidatonya. Bahkan tak segan-segan Soekarno berkata bahwa Tuhan bersama Indonesia. Ini tercermin dalam pidatonya " Bukan saya berkata Tuhan adalah Indonesia, tetapi Tuhan bagiku tercermin pula dalam Indonesia" (artikel Bambang Noorsena: 2001). Begitu dalam kecintaannya terhadap tanah air, H. Agus Salim dan A. Hassan menghawatirkan jika kecintannya itu akan berubah menjadi musyrik. Namun, itulah watak Soekarno yang rasa nasionalismenya telah menyatu dengan darah dan dagingnya. Baginya, tanah air adalah segalanya sehingga ia rela mengorbankan kepentingan apapun termasuk untuk keluarganya.
Watak khas Soekarno lainnya, bahwa ia berjiwa pluralis tinggi. Ini tercermin pertama dari gagasan nasakom-nya. Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis) menjadi jiwa Soekarno saat memegang kepemimpinan Indonesia. Gagasan ini lahir mengingat kondisi bangsa terdiri dari beragam suku, agama, budaya, ras serta kepercayaan. Untuk merangkul semua itu butuh wadah yang memadai. Lewat nasakom inilah semua perbedaan dapat ditampung. Meski belum seutuhnya. Untuk lebih menambah daya tampung, Soekarno melahirkan gagasan baru yang bernama Pancasila. Gagasan kedua dari jiwa pluralis Soekarno ini menjadi wadah paling efektif untuk merangkai perbedaan. Tak urung, gagasan ini menjadi dasar negara Indonesia.
Lewat Pancasila, Soekarno mengajarkan bahwa perbedaan yang ada bukanlah alat pemecahan. Perbedaan adalah bahan-bahan persatuan. Layaknya pelangi, perbedaan yang ditata dengan rapi menjadi indah dan sedap dipandang. Itulah sesungguhnya yang diinginkan Soekarno. Lewat perbedaan janganlah dijadikan alasan untuk tidak bersatu bahkan memberontak. Apa yang dilakukan RMS, Andi Aziz, DI/TII, dan aksi separatisme lain ditindak tegas oleh Soekarno karena ia tidak menginginkan hal itu. Ia ingin agar semua perbedaan menjadi satu dalam persatuan, bukan berpisah dengan jalan pemberontakan. Sebab bangsa ini adalah bangsa besar dan akan selalu besar dalam wadah persatuan.
Disinilah betapa menariknya gagasan Soekarno. Lewat pluralisme dalam Pancasila-nya ia mengajarkan pesan kasih sayang dan perdamaian. Seandainya saja Soekarno terlalu kaku dan fanatik, barangkali bangsa ini bukan bernama Indonesia dan bukan pula tercipta sebagai negara kesatuan yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Itulah gagasan Soekarno yang sangat prinsipil dan menarik. Namun, akan lebih menarik tentunya jika mampu dikontekskan dengan kondisi bangsa saat ini. Pluralisme serta rasa toleransi sekarang begitu mahal harganya. Harus dibayar dengan luka dan kepedihan. Apa yang dialami anggota AKKBB (Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) 1 Juni 2008 kemarin, adalah bukti bahwa pluralisme sangatlah mahal. Mereka harus terluka setelah mendapat pukulan dari anak-anak bangsa yang terlalu inklusif memegang prinsip sehingga menjadi garang.
Anak bangsa yang bersemayam dibawah baju Font Pembela Islam (FPI), tega memukuli sesama anak bangsa lainnya atas nama perbedaan. Mereka begitu fanatik sehingga "buta" dalam melakukan sesuatu. Sama sekali tidak tahu konteks. Kebencian terhadap Ahmadiyah semestinya janganlah dijadikan "dalil" untuk melukai anggota AKKBB. Toh, belum terbukti sepenuhnya bahwa AKKBB mendukung Ahmadiyah. Kalau FPI hendak mencegah AKKBB janganlah dengan kekerasan. Dekatilah dengan baik, dialog dengan mesra, dan selesaikanlah dengan perdamaian. Itu pula yang dulu dijarkan oleh Bapak bangsa ini. Perbedaan memang selalu ada, karenanya sikapilah dengan penuh kearifan. Begitulah kira-kira inti pesan pluralisme Soekarno kepada anak-anak Indonesia. Singkat dan bermakna.
"Sejak dahulu Bapak Bangsa telah mengajakan etika pluralisme. Perbedaan: dirangkai dalam kebersamaan, dirajut dengan cinta kasih serta diikat dengan perdamaian".
*)Penulis adalah alumnus MAN Kebumen 2

Tidak ada komentar: