Bagi sebagian kita, bahkan hampir menyeluruh, tema cinta telah lazim didengar. Termasuk bagi saya pribadi. Adapun bagi anak-anak muda, cinta seolah menjadi sebuah kewajiban. Barangsiapa tak memiliki cinta bagai sayur tanpa garam. begitu kira-kira perumpamaannya. Namun yang jadi pertanyaan, cinta seperti apa yang hendak kita miliki? Pemaknaan cinta apa yang kita tahu? Dan seperti apa cinta yang kita rasakan? Untuk pertanyaan ini terkadang kita sulit menjawab, bahkan saya sendiri juga kesulitan.
Kalau kita sedang jatuh cinta bayangan kita mesti seorang wanita cantik, menawan, anggun, dan serba menyenangkan. Senyumnya, candanya, geraknya, pandangannya, begitu menghujam di hati kita. Ya, seperti itu memang cinta. Namun kalau tidak salah cinta seperti itu "asmara" namanya. Contohnya seperti kisah Romeo dan Juliet, Laila dan Majnun. Tetapi bagaimana dengan seorang ibu yang asyik menimang bayinya setiap waktu. Ia diberi makan, minum susu, disayang, dimanja, jika terluka diobati dan jika merengek minta mainan, segera diberi. Atau juga seekor kucing dengan anak-anaknya. Ia memberi makan anak-anak itu, melindungi, menyusui, bercanda bersama, melatih mencari makan, serta merawatnya. Apakah itu bukan cinta? Ya, itupun cinta. Kalau tidak salah namanya kasih sayang.
Lalu ada lagi, ini sering kita dengar misalnya, cintailah lingkunganmu, cintailah rumahmu, atau cintailah kesehatanmu. Kalau ini cinta apa namanya? Kalau menurut saya ini namanya menjaga. Kita disuruh menjaga lingkungan, rumah, serta kesehatan. Dalam menjaga kita butuh kasih sayang. Lingkungan kita, rumah kita, serta kesehatan kita juga perlu kasih sayang dari kita. Tidak hanya manusia saja. Termasuk bagaimana kita menebar kasih sayang kepada saudara kita, baik saudara seagama maupun non-agama. Kita tidak diperkenankan gegabah mengambil tindakan senonoh dalam bercengkrama dengan sesama. Bagi kita yang muslim, bukankah telah jelas disebutkan dalam hadis bahwa muslim satu dengan lainnya bersaudara diumpamakan sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Adapun dengan non-muslim kita diperintahkan untuk tasamuh (toleransi).
Kembali ke tema cinta, anda mungkin pernah mendengar, membaca, atau memperoleh informasi tentang kisah Robiah Al-Adawiyah. Siapakah ia? Tentu anda telah tahu bagaimana kecintaannya kepada Allah SWT begitu dalam melebihi segala hal. Demi cintanya itu, ia rela menolak lamaran Hasan Basri, ulama tersohor di Basrah. Ia rela tidak mau menikah hanya demi menjaga kecintaannya kepada Allah. Inilah yang dinamakan totalitas cinta. Cinta kepada yang Hakiki melebihi segala hal. Dia yang Haq (Allah) ditempatkan dalam urutan pertama dari urutan cinta. Cinta dari segala cinta adalah menuju kepada-Nya.
Dalam Al-Qur'an disebutkan "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un (kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya jua)". Dari sinilah evolusi cinta berjalan. Cinta yang berasal dari Sang Maha Cinta (Allah) lalu diturunkan kepada makhluk terpilihnya (Muhammad) dan diturunkan lagi kepada makhluknya di tataran kosmos (alam raya). Dari makhluk yang satu menyebar ke makhluk yang lain. Begitu seterusnya. Dan pada akhirnya cinta itu kembali hanya kepada Al-Haq (Allah).
Dengan cinta itu kita akan mampu melakukan segala hal. Dengan cinta, Imam Gozali mampu melahirkan maha karya ihya' ulumuddin, Ibnu Rusdy menuliskan tahafut al-falasifah, Al-Jabar menemukan rumus Al-Jabar, Jabir Ibnu Hayyam menorehkan prestasi di bidang kimia, Umar Kayam menyelesaikan syair Ruba'iyat-nya, Jalaluddin Rumi berpesta cinta di dalam Mastnawi-nya, Iqbal berkobar dengan Javid Namah-nya, Edison terkesima dengan temuan listriknya, Einstein bahagia dengan rumus relativitasnya, dan seorang petani di desa bangga dengan hasil kerja tangannya. Lalu, bagaimana dengan kita? Apa yang bisa kita lakukan dengan cinta yang kita miliki? (@nas El-Zakky)
Kalau kita sedang jatuh cinta bayangan kita mesti seorang wanita cantik, menawan, anggun, dan serba menyenangkan. Senyumnya, candanya, geraknya, pandangannya, begitu menghujam di hati kita. Ya, seperti itu memang cinta. Namun kalau tidak salah cinta seperti itu "asmara" namanya. Contohnya seperti kisah Romeo dan Juliet, Laila dan Majnun. Tetapi bagaimana dengan seorang ibu yang asyik menimang bayinya setiap waktu. Ia diberi makan, minum susu, disayang, dimanja, jika terluka diobati dan jika merengek minta mainan, segera diberi. Atau juga seekor kucing dengan anak-anaknya. Ia memberi makan anak-anak itu, melindungi, menyusui, bercanda bersama, melatih mencari makan, serta merawatnya. Apakah itu bukan cinta? Ya, itupun cinta. Kalau tidak salah namanya kasih sayang.
Lalu ada lagi, ini sering kita dengar misalnya, cintailah lingkunganmu, cintailah rumahmu, atau cintailah kesehatanmu. Kalau ini cinta apa namanya? Kalau menurut saya ini namanya menjaga. Kita disuruh menjaga lingkungan, rumah, serta kesehatan. Dalam menjaga kita butuh kasih sayang. Lingkungan kita, rumah kita, serta kesehatan kita juga perlu kasih sayang dari kita. Tidak hanya manusia saja. Termasuk bagaimana kita menebar kasih sayang kepada saudara kita, baik saudara seagama maupun non-agama. Kita tidak diperkenankan gegabah mengambil tindakan senonoh dalam bercengkrama dengan sesama. Bagi kita yang muslim, bukankah telah jelas disebutkan dalam hadis bahwa muslim satu dengan lainnya bersaudara diumpamakan sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Adapun dengan non-muslim kita diperintahkan untuk tasamuh (toleransi).
Kembali ke tema cinta, anda mungkin pernah mendengar, membaca, atau memperoleh informasi tentang kisah Robiah Al-Adawiyah. Siapakah ia? Tentu anda telah tahu bagaimana kecintaannya kepada Allah SWT begitu dalam melebihi segala hal. Demi cintanya itu, ia rela menolak lamaran Hasan Basri, ulama tersohor di Basrah. Ia rela tidak mau menikah hanya demi menjaga kecintaannya kepada Allah. Inilah yang dinamakan totalitas cinta. Cinta kepada yang Hakiki melebihi segala hal. Dia yang Haq (Allah) ditempatkan dalam urutan pertama dari urutan cinta. Cinta dari segala cinta adalah menuju kepada-Nya.
Dalam Al-Qur'an disebutkan "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un (kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya jua)". Dari sinilah evolusi cinta berjalan. Cinta yang berasal dari Sang Maha Cinta (Allah) lalu diturunkan kepada makhluk terpilihnya (Muhammad) dan diturunkan lagi kepada makhluknya di tataran kosmos (alam raya). Dari makhluk yang satu menyebar ke makhluk yang lain. Begitu seterusnya. Dan pada akhirnya cinta itu kembali hanya kepada Al-Haq (Allah).
Dengan cinta itu kita akan mampu melakukan segala hal. Dengan cinta, Imam Gozali mampu melahirkan maha karya ihya' ulumuddin, Ibnu Rusdy menuliskan tahafut al-falasifah, Al-Jabar menemukan rumus Al-Jabar, Jabir Ibnu Hayyam menorehkan prestasi di bidang kimia, Umar Kayam menyelesaikan syair Ruba'iyat-nya, Jalaluddin Rumi berpesta cinta di dalam Mastnawi-nya, Iqbal berkobar dengan Javid Namah-nya, Edison terkesima dengan temuan listriknya, Einstein bahagia dengan rumus relativitasnya, dan seorang petani di desa bangga dengan hasil kerja tangannya. Lalu, bagaimana dengan kita? Apa yang bisa kita lakukan dengan cinta yang kita miliki? (@nas El-Zakky)