Kawan-kawan, untuk edisi perdana ini akan sedikit saya isi Blod Manda ini dengan sepotong tulisan artikel. Ini artikel semi ilmiah. Para penulis menyebutnya sebagai kolom. Sengaja saya menulis yang agak berbobot sendikit. Supaya kawan-kawan tidak rugi. Sudah datang ke warnet, ternyata tidak dapat apa-apa. Buang-buang uang saja. Kalau ada yang bisa dijadikan tambahan pengetahuan kan lumayan. Jadi selain kawan-kawan bisa curhat alias kangen-kangenan, juga bisa dapat wawasan biar tidak ketinggalan zaman. Nanti kawan-kawan gantian yang ngisi. Jangan saya terus. Saya paling sebulan sekali akan ngisi rubrik kolom ini. Itu pun jika kawan-kawan membolehkan. Maknya nanti kawan-kawan kirim komentarnya.
Baik, saya tidak bertele-tele terlalu lama. Edisi perdana ini saya ingin mengajukan topik “Indonesia Republik Selebritis”. Mungkin ini terlalu tinggi bagi kawan-kawan. Tapi tak apa-apa. Biar kawan-kawan terbiasa. Ide atau gagasan Indonesia sebagai republik selebritis ini bukan datang dari saya. Saya hanya mengutip idenya budayawan kita, MH Ainun Najib. Gagasan ini sebenarnya sudah lama dilontarkan Cak Nun. Namun sampai saat ini masih hangat dengan kondisi negara kita. Indonesia sebagai republik selebritis, bukanlah bentuk Negara baru. Ia hanyalah istilah untuk menamai fenomena budaya bangsa kita yang terjadi saat ini. Kawan-kawan tahu fenomena? Mudahnya fenomena adalah kejadian atau peristiwa yang ada disekitar kita. Jadi fenomena budaya merupakan peristiwa budaya yang berlangsung disekeliling kita. Kalau budaya sendiri, devinisi sederhananya adalah hasil budi dan daya manusia.
“Indonesia Republik Selebritis” adalah istilah untuk menyebut fenomena budaya bangsa yang saat ini sedang gandrung dengan dunia selebritis. Selebritis bisa masuk kategori apapun. Bisa artis sinetron, penyanyi, atau siapapun yang menjadi public figure. Saat ini dunia selebritis begitu menggema. Lihat saja televisi kita berapa kali menayangkan artis. Mulai dari film, infotaiment, pembawa acara, dan masih banyak yang lain. Yang menjadi masalah adalah budaya artis kita sudah melenceng alias tidak sesuai dari nilai dan norma bangsa. Lihat saja film-film kita jarang yang bermutu. Paling-paling tentang cinta. Itu pun cinta yang remeh temeh. Bukan cinta yang penuh pemaknaan dan penghayatan. Adegan-adegan vulgar sudah biasa dilakukan. Bukan adegan yang mendidik agar bangsa ini punya semangat kemajuan, malah adegan yang tak karuan.
Penyanyi-penyanyi kita saat ini juga sudah kelewat batas. Mulai dari pakaian, gaya hidup, prinsip hidup, goyangan, semuanya serba tak karuan. Jarang penyanyi yang mau tampil sederhana. Nanti bisa dikatakan tidak metal dan tidak disenangi para fans. Meski masih ada penyanyi yang mampu menjaga tata nilai kehidupan, jumlahnya sedikit. Yang lebih parah lagi, dunia para artis diekspos besar-besaran di media. Lewat tayangan infotaiment yang setiap saat hampir ada, para artis begitu bebas “mengumbar” cara hidup mereka. Mulai dari gaya pakaian, gaya hidup, cara makan, pilihan hiburan, perceraian, bahkan kentut para artis ditayangkan. Dahsyat bukan? Untung baru-baru ini muncul film “Ayat-Ayat Cinta” yang meledak dahsyat dan mampu memberi nuansa positif perfilman Indonesia. Karcisnya saja kemarin terjual 2,5 juta sebagaimana penuturan Patti Djalal, juru bicara Presiden. Pantas saja Bapak Presiden, Wakil Presiden, Para Mentri, para pejabat pemerintah, bahkan para Dubes luar negri nonton film Ayat-Ayat Cinta.
Namun film Ayat-Ayat Cinta belum banyak mampu memberikan perubahan moral bangsa. Semoga saja perlahan-lahan bisa. Terbukti tingkah laku sebagian besar generasi bangsa terutama generasi muda banyak meniru selebritis. Mulai dari baju, sepatu, make up, gaya, bahkan untuk urusan makanan harus sesuai para selebritis. Jadi kalau tidak bergaya ala Bunga Citra Lestari, Agnes Monica, Aril, Sahrul Gunawan, atau artis mana pun dikatakan “tidak gaul”. Makanya, segala apa pun yang dilakukan harus sesuai selebritis yang dikagumi. Inilah yang disebut republik selebritis dimana artis maupun selebritis telah dijadikan panutan utama dalam kehidupan. Bukahkah begitu kawan-kawan? Mungkin ini juga terjadi pada anda. Lalu, dimana salahnya? Saya tidak menyalahkan kawan-kawan atau generasi bangsa manapun. Sebagaimana saya katakan didepan bahwa ini adalah fenomena budaya. Boleh saja meniru artis. Tapi yang ditiru yang positif saja. Jangan meniru yang membuat kita rugi.
Kita meniru gaya hidup artis, mereka gaya hidupnya “hedonis”. Kawan-kawan tahu apa itu hedonis? Gampangnya gaya hidup yang inginnya selalu senang-senang, alias happy-happy terus. Prinsipnya hidup untuk bersenang-senang. Makanya kalau para artis suka nongkrong di Mall, cafĂ©, club-club malam, tempat-tempat hiburan, diskotik, suka shopping, merawat tubuh dengan biaya super mahal, dan gaya hidup yang serba “wah”, itu bagi mereka biasa. Namanya juga hedonis. Itulah hal yang tidak boleh kita tiru. Yang positif saja lah. Biar kita tidak terjebak ke dalam “belenggu” kehidupan. Pusing kita kalau harus nuruti gaya artis yang sak penake dewe. Dan yang perlu kawan-kawan tahu, para artis itu ternyata para robot-robot kapitalisme. Waduh apa tuh? Bahwa artis hanyalah alat untuk meraih keuntungan para kaum kapitalis, sederhananya yaitu orang yang hidupnya hanya mencari keuntungan dengan cara apapun. Kebanyakan cara licik.
Jadi artis hanyalah modal untuk mencari keuntungan. Kalau filmnya laku, maka yang untung banyak ya orang-orang yang memiliki modal. Mereka itulah orang-orang kapitalis. Makanya film-film yang dibuat hanyalah flim-film pasaran yang tidak bermutu, tetapi asal laku. Yang terpenting dapat untung, beres. Tak peduli apa akibat yang ditimbulkan. Tak peduli moral bangsa hancur. Asal ada keuntungan, ada jalan. Nah kawan-kawan, kalau sudah tahu demikian, maka mari kita mulai rubah hidup kita. Jangan lagi kita tiru kehidupan artis yang serba negative. Kita kembalikan hidup pada norma agama, norma adat bangsa, yang membawa ketentraman. Kita jadikan kembali para ulama kita, kyai, ilmuan, cendekiawan, atau siapapun orangnya yang mampu memberikan pencerahan dalam hidup, sebagai panutan. Yang hanya membuat bangsa ini terpuruk meski para ilmuan sekalipun, kita tinggalkan. Pokoknya, mari ramai-ramai kita tinggalkan “republik selebritis” dan beralihlah menjadi “republik kemanusiaan”.
Begitu kira-kira kawan-kawan apa yang ingin saya sampaikan. Kalau misalnya kurang jelas, silahkan baca buku tentang televisi kita atau kolom-kolom MH. Nanti disana kawan-kawan akan dapat pencerahan. Apalagi adik-adikku yang masih di Manda, jangan pernah alergi baca buku. Nanti ketinggalan zaman. Kalau pingin nulis artikel, tinggal kirim saja. Nanti kalau bagus kakak tampilkan diblog ini. Lumayan kan buat latihan menulis. Kawan-kawan juga demikian. Silahkan kirimkan artikelnya. Yang ilmiah murni juga boleh. Agar ada wawasan yang kita peroleh setiap membaca blog manda ini. Pokoknya saya tunggu uneg-uneg kawan-kawan. Apapun itu yang penting positif. Kan sudah ada ketentuannya dikata pengantar. OK kawan-kawan. Sampai jumpa lagi di edisi mendatang dan selamat membaca. (anas, alumni MAN 2006)
Pengantar Untuk Kawan-Kawan
Assalamu'alaikum
Hay......kawan-kawan MANDA tercinta? Apa kabarnya? Detik waktu tak terasa telah memisahkan kita dari masa-masa silam. Waktu memaksa setiap diri melaju bersama hembusan angin mencari jati diri. Kemanapun arah, tujuan dan langkah kaki dihentakkan, disanalah akan kita jelajahi dunia mimpi-mimpi kehidupan. Guratan-guratan alam impian telah menggerakkan setiap jemari untuk menelusuri jelujur kehidupan yang membentang luas dan belum terlihat dimana muaranya. Itulah diri kita saat ini yang selalu berkelana untuk menemukan hidup ini.
Kita tentu masih ingat saat menerima ijazah dari MANDA Kebumen tercinta. Saat itulah kita mulai berfikir akan kemana melangkahkan kaki. Ada yang optimis ingin kuliah, ada yang bekerja, ada yang pesimis tak ada biaya, dan ada pula yang belum menemukan harapan. Itu semua hanyalah jalan kita menuju puncak jati diri. Setiap orang akan memiliki jalan berbeda dengan lainnya. Itu sah-sah saja karena jalan-jalan imipian begitu luas dan bercabang. Yang terpenting kita masih sadar bahwa kita masih mempunyai impian. Jadi tak perlu resah atau menyesal dengan keadaan sekarang. Teruslah melangkah mumpung masih ada waktu.
Kawan-kawan, ada segenggam perasaan menggelitik menancap di ujung hati. Setelah diteliti dengan seksama, diukur, di-analisis, di-petani-, lalu diteropong, ternyata perasaan itu hanyalah kangen. Kangennya juga tidak terlalu seberapa. Hanya sedikit tidak terlalu besar saja. Kalau diitung dan ditakar dengan kangennya kawan-kawan sama pacar, tentu kangen saya masih dibawah standar. Saya hanya kangen pingin mendengar kabar kawan-kawan. Dan juga pingin tahu kawan-kawan kali ini sedang apa? Apa lagi tidur, kerja, kuliah, nganggur, atau lagi apa. Ah, paling lagi pada duaan. Duaan dengan siapapun dan apapun tentunya. Dengan pekerjaan, dengan pelajaran, dengan sante-sante dirumah, dengan suami barang kali (nyindir nich....,hehe), atau dengan pacar???monggolah..... yang penting tidak sendirian.
Dari inilah saya mulai sadar bahwa saya harus punya sandaran hati untuk mengobati rasa kangen ini. Dan diujung segala keresahan, ada Mas Dev, sang pangeran cinta yang punya sihir ampuh mengobati kangen. Muncullah jurus Blog untuk mengobati rasa kangen ini. Ya sudah, berhubung dia punya ide jadilah Blog ini. Dengan legitimasi dari Om Ibnu, Mr. Aziz, dan peng-Gugat, maka dengan optimis dan dengan langkah kaki mantap seperti Kahlil Gibran yang akan bertemu May Ziadah, dibuatlah Blog dengan nama Mandament community. Nah, sekarang rasa kangen saya sudah mulai berkurang. Tapi itu tak cukup. Saya dan kawan-kawan community belum mendengar kabar kawan-kawan.
Untuk itu dan oleh karena itu, maka dari itu saya dan kawan-kawan community berharap kepada kawan-kawan semua untuk meluangkan waktu sedikit untuk sekedar melihat, membaca, memaki juga boleh, tapi sekali makian seratus ribu....hehe. Syukur mau berpartisipasi dalam Blog ini karena Blog ini adalah milik kita semua, bukan milik pribadi. Nanti blog ini akan diisi dengan info-info, mulai dari info kampus, kegiatan kawan-kawan, info kerja bagi yang bekerja, atau info apapun yang bermanfaat. Tapi bukan biro jodoh lho.... Terus, kawan-kawan juga bisa menyalurkan kreatifitas tulis-menulis. Mulai dari artikel ilmiah, semi-ilmiah, ilmiah populer, pokoknya yang mambu ngilmiah . Bisa nulis puisi, cerpen, atau punya pantun, lelucon, bisa juga tips-tips tentang kesehatan, pekerjaan, kuliah, makanan, support, atau tips apapun yang penting jangan tips cara selingkuh, ini dilarang undang-uandang! Pokoknya yang positif-positif aja deh....
Bisa juga tukar pengalaman. Pengalaman hidup, pengalaman, kerja, pengalaman kuliah, pengalaman pengangguran (biar dicarikan info kerja), atau pengalaman nyuri motor (tapi kalau ini kami laporin polisis,hehe). Bisa juga konsultasi persoalan kehidupan biar kami carikan pakarnya. Pokoknya yang serba positif dan berguna bagi kawan-kawan. Nanti kawan-kawan kirim saja uneg-uneg anda ke email : mandamentcomunity@gmail.com. Nanti uneg-uneg kawan-kawan akan kami tampilkan di Blog biar dibaca sama kawan-kawan yang lain. Jadinya mereka tahu gimana kabar kawan-kawan, apa aktifitasnya sekarang, trus kalau ada pengagum rahasia kan jadi bisa di-SMS, hihihi. Pokoknya kami tunggu uneg-uneg kawan-kawan dan selamat bergabung bersama Mandament community.
Wassalamu'alaikum
ttd
OP mandament community
Dev dan Anas
Rabu, 30 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar